Wednesday, July 20, 2016

Puja Mandala


Pulau Bali, dikenal dengan pulau yang memiliki Budaya Daerah Bali yang masih terjaga dan terawat. Namun tidak hanya itu, di Pulau Bali juga dikenal dengan Tingkat Toleransi Antar Agama yang tinggi. Hubungan antar Agama sangat baik dan saling menghargai satu sama lain. Toleransi yang Tinggi ini dapat di lihat bahwa terdapat tempat peribadatan 5 agama dalam 1 komplek, yaitu Puja Mandala

Puja Mandala adalah sebuah kompleks tempat bangunan peribadatan indah di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali. Di Puja Mandala terdapat lima tempat ibadah dari agama yang diakui di Indonesia. Yaitu Agama Islam, Katholik, Budha, Protestan dan Hindu. Uniknya, bangunan tersebut berdiri berdampingan, rumah – rumah ibadat itu dibangun tanpa sekat pemisah, memiliki satu halaman, dan memiliki atap yang sama tinggi tanpa ada yang melebihi.

Awalnya pada 1990an warga Islam di daerah Nusa Dua mengalami kesulitan dalam beribadah shalat Jum’at. Masjid terbesar dan terdekat dari wilayah Nusa Dua ketika itu berada di Kuta sekitar 30-45 menit dengan mobil. Hal tersebut sangat tidak efisien untuk mereka yang harus kembali bekerja sesudah shalat Jumat. Untuk itu MUI Bali dan Yayasan Ibnu Batutah mengusulkan pendirian Masjid kepada pemerintah. Namun pendirian Masjid terhalang oleh SKB 2 Menteri yang mensyaratkan pendirian rumah ibadah dengan 500 warga pemohon beragama Islam yang tinggal di lokasi.

Puja Mandala di Nusa Dua mulai dibangun tahun 1994 atas bantuan Kontraktor PT. BTDC (Bali Tourism Development Centre) yang memberikan bantuan lahan seluas 2 hektar untuk membangun kelima tempat ibadah tersebut. Lahan itu dibagi sama besar dan luasnya. Pendirian bangunan diserahkan sepenuhnya pada umat masing-masing agama, dengan aturan pendirian bangunan tersebut harus sama tingginya. Puja Mandala Nusa Dua secara resmi disahkan pada tahun 1997 oleh Menteri Agama Bapak Tarmidzi Taher. Saat itu hanya Gereja Bunda Maria Segala Bangsa (Katholik), Jemaat Bukit Doa (Protestan) dan Masjid Ibnu Batutah yang sudah selesai pembangunannya. Sedangkan, Wihara Budhina Guna (Budha) baru selesai pembangunannya pada tahun 2003.

Penyelesaian Puja Mandala dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus semua tempat ibadah dibangun secara bersamaan. Urutan penyelesaian sebagai berikut :
  • Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa (1997) 


  • Gereja Kristen Prostestan Bukit Doa (1997)



  • Masjid Ibnu Batutah (1997)



  • Vihara Budhina Guna (2003)


  • Pura Jagat Natha (2005)




Selain untuk tempat ibadah bagi umat yang bertempat tinggal di sekitar Nusa Dua, banyak wisatawan yang beribadah pada saat liburan di Bali ketika melewatinya. Merupakan suatu hal yang menarik sebagai kunjungan wisata, karena tempat ibadah di Bali ini menunjukan suatu perbedaan namun menjunjung tinggi Toleransi dalam beragama di Bali, yang menjadi salah satu bukti semboyan Bangsa Indonesia yang disebut Bhineka Tunggal Ika. Dimana tulisan ini terdapat pada lambang negara Burung Garuda yang kakinya memegang sembayan tersebut yang berarti Berbeda - beda namun tetap satu.

Setiap Rumah Peribadatan memiliki ciri khas bangunan yang sangat mendetail yang sangat menarik, sebagai berikut :


  • Masjid Agung Ibnu Batutah yang beratap tumpang susun merupakan bangunan khas Masjid yang sering ditemukan di daerah Jawa. Nama Masjid Ibnu Batutah diambil dari nama seorang pengembara Maroko, yaitu Ibnu Batutah dengan catatan perjalanan dunia terlengkap dari abad ke-14, melintasi jarak 120.000 km sepanjang dunia kaum Muslim, mencakup 44 negara modern termasuk Indonesia. 
  • Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, tepat di sebelah Masjid Agung Ibnu Batutah, dengan menara tunggal, dinding depan gevel mengikuti bentuk atap dan bagian belakang atap tumpang. Nama ini diilhami oleh penampakan Bunda Maria di Amsterdam, Belanda, yang mengijinkan disapa sebagai Bundanya Para Bangsa. Bersandingkan nama Maria Bunda Segala Bangsa dan sesuai dengan namanya, umat Gereja MBSB berasal dari berbagai latarbelakang suku yang ada di Indonesia, maupun umat mancanegara yang melakukan perjalanan bisnis atau berlibur. Maka, tidaklah berlebihan kalau gereja Katolik MBSB menjadi miliknya segala bangsa. 
  • Wihara Budhina Guna dengan ornamen cantik berwarna putih dan keemasan. Wihara ini tampak anggun dan mewah. Pengerjaan patung dan ornamennya terkesan sangat halus dan detail. 
  • Gereja Kristen Protestan Bukit Doa dengan sentuhan ornamen lokal yang cukup kental dan menara di depan gereja dengan lonceng diatasnya. 
  • Pura Jagat Natha Nusa Dua yang terletak di bagian paling kanan kompleks. Kala makara paling besar dibuat dengan sepasang tangan berkuku panjang, yang tidak lazim dijumpai pada candi-candi Jawa.

Walaupu warga Bali mayoritas memeluk Agama Hindu, kerukunan dan toleransi Umat Beragama patut menjadi Teladan. Mendengar cerita banyak orang di sekitar, perayaan ataupun upacara keagamaan seringkali di selingi Suara Adzan atau Shalat Jum'at yang tetap diadakan.

Suatu ketika Hari Raya Nyepi jatuh bertepatan dengan Hari Jum'at. Hari Raya Nyepi sangat sakral bagi umat Hindu di Bali. Warga di seluruh pulau Bali tidak boleh bepergian keluar rumah. Pada malam hari warga tidak boleh menyalakan api atau lampu penerangan dan tidak boleh membuat keributan. Siapa yang melanggar akan ditahan oleh Pecalang (penjaga keamanan Desa Adat). Namun hal yang sangat menarik adalah ternyata pada Jumat itu secara khusus umat Muslimin di Nusa Dua dipersilakan beribadah Jumat di Masjid Ibnu Batutah Puja Mandala.

Hal lainnya yaitu saat menyambut Paskah misalnya, petugas keamanan desa adat atau pecalang dan pengurus masjid membantu mengamankan rangkaian Perayaan Paskah di Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Selain itu untuk membantu mengamankan dan mengurangi kemacetan, empat pecalang dari Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung dan pengurus Masjid akan bertugas menjaga keamanan secara bergiliran.

Di sekitar komplek banyak terdapat ruko, toko, dan warung-warung. Beberapa adalah orang muslim yang mendirikan toko pakaian adat dan baju muslim. Begitupun dengan masyarakat yang beragama lain mereka saling hidup rukun dan harmonis. Tujuan dari pendirian tempat ibadah ini merupakan percontohan miniatur kerukunan hidup bersama, dan apabila masyarakat sekitar ditanya apakah pernah ada perselisihan karena perbedaan agama, mereka hanya menjawab, “Tidak, justru kami berusaha untuk saling membantu dan saling menghormati satu sama lain.”

Dengan keunikannya ini Puja Mandala menjadi kawasan yang dianggap menggambarkan Kerukunan dan Toleransi antar Umat Beragama di Indonesia Khususnya di Bali dan menjadi tempat wisata yang sangat diminati oleh wisatawan, baik Wisatawan Domestik maupun Wisatawan Mancanegara.


Refrensi :     - Tour Guide Widya Wisata “Amazing Bali” 2016, Bus 5 (Bli Putu)
                     - Ta’mir Masjid Agung Ibnu Batutah


To get the latest update of my blog

>> <<