Pulau Bali, dikenal
dengan pulau yang memiliki Budaya Daerah Bali yang masih terjaga dan terawat.
Namun tidak hanya itu, di Pulau Bali juga dikenal dengan Tingkat Toleransi
Antar Agama yang tinggi. Hubungan antar Agama sangat baik dan saling menghargai
satu sama lain. Toleransi yang Tinggi ini dapat di lihat bahwa terdapat tempat
peribadatan 5 agama dalam 1 komplek, yaitu Puja Mandala
Puja Mandala adalah
sebuah kompleks tempat bangunan peribadatan indah di kawasan Nusa Dua, Badung,
Bali. Di Puja Mandala terdapat lima tempat ibadah dari agama yang diakui di
Indonesia. Yaitu Agama Islam, Katholik, Budha, Protestan dan Hindu. Uniknya,
bangunan tersebut berdiri berdampingan, rumah – rumah ibadat itu dibangun tanpa
sekat pemisah, memiliki satu halaman, dan memiliki atap yang sama tinggi tanpa
ada yang melebihi.
Awalnya pada 1990an
warga Islam di daerah Nusa Dua mengalami kesulitan dalam beribadah shalat
Jum’at. Masjid terbesar dan terdekat dari wilayah Nusa Dua ketika itu berada di
Kuta sekitar 30-45 menit dengan mobil. Hal tersebut sangat tidak efisien untuk
mereka yang harus kembali bekerja sesudah shalat Jumat. Untuk itu MUI Bali dan
Yayasan Ibnu Batutah mengusulkan pendirian Masjid kepada pemerintah. Namun
pendirian Masjid terhalang oleh SKB 2 Menteri yang mensyaratkan pendirian rumah
ibadah dengan 500 warga pemohon beragama Islam yang tinggal di lokasi.
Puja Mandala di Nusa Dua
mulai dibangun tahun 1994 atas bantuan Kontraktor PT. BTDC (Bali Tourism
Development Centre) yang memberikan bantuan lahan seluas 2 hektar untuk
membangun kelima tempat ibadah tersebut. Lahan itu dibagi sama besar dan
luasnya. Pendirian bangunan diserahkan sepenuhnya pada umat masing-masing
agama, dengan aturan pendirian bangunan tersebut harus sama tingginya. Puja Mandala
Nusa Dua secara resmi disahkan pada tahun 1997 oleh Menteri Agama Bapak
Tarmidzi Taher. Saat itu hanya Gereja Bunda Maria Segala Bangsa (Katholik),
Jemaat Bukit Doa (Protestan) dan Masjid Ibnu Batutah yang sudah selesai
pembangunannya. Sedangkan, Wihara Budhina Guna (Budha) baru selesai
pembangunannya pada tahun 2003.
Penyelesaian Puja
Mandala dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus semua tempat ibadah dibangun
secara bersamaan. Urutan penyelesaian sebagai berikut :
- Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa (1997)
- Gereja Kristen Prostestan Bukit Doa (1997)
- Masjid Ibnu Batutah (1997)
- Vihara Budhina Guna (2003)
- Pura Jagat Natha (2005)
Selain untuk tempat
ibadah bagi umat yang bertempat tinggal di sekitar Nusa Dua, banyak wisatawan
yang beribadah pada saat liburan di Bali ketika melewatinya. Merupakan suatu
hal yang menarik sebagai kunjungan wisata, karena tempat ibadah di Bali ini
menunjukan suatu perbedaan namun menjunjung tinggi Toleransi dalam beragama di
Bali, yang menjadi salah satu bukti semboyan Bangsa Indonesia yang disebut
Bhineka Tunggal Ika. Dimana tulisan ini terdapat pada lambang negara Burung
Garuda yang kakinya memegang sembayan tersebut yang berarti Berbeda - beda
namun tetap satu.
Setiap Rumah Peribadatan
memiliki ciri khas bangunan yang sangat mendetail yang sangat menarik, sebagai
berikut :
- Masjid Agung Ibnu Batutah yang beratap tumpang susun
merupakan bangunan khas Masjid yang sering ditemukan di daerah Jawa. Nama
Masjid Ibnu Batutah diambil dari nama seorang pengembara Maroko, yaitu
Ibnu Batutah dengan catatan perjalanan dunia terlengkap dari abad ke-14,
melintasi jarak 120.000 km sepanjang dunia kaum Muslim, mencakup 44 negara
modern termasuk Indonesia.
- Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, tepat di sebelah
Masjid Agung Ibnu Batutah, dengan menara tunggal, dinding depan gevel
mengikuti bentuk atap dan bagian belakang atap tumpang. Nama ini diilhami
oleh penampakan Bunda Maria di Amsterdam, Belanda, yang mengijinkan disapa
sebagai Bundanya Para Bangsa. Bersandingkan nama Maria Bunda Segala Bangsa
dan sesuai dengan namanya, umat Gereja MBSB berasal dari berbagai
latarbelakang suku yang ada di Indonesia, maupun umat mancanegara yang
melakukan perjalanan bisnis atau berlibur. Maka, tidaklah berlebihan kalau
gereja Katolik MBSB menjadi miliknya segala bangsa.
- Wihara Budhina Guna dengan ornamen cantik berwarna
putih dan keemasan. Wihara ini tampak anggun dan mewah. Pengerjaan patung
dan ornamennya terkesan sangat halus dan detail.
- Gereja Kristen Protestan Bukit Doa dengan sentuhan
ornamen lokal yang cukup kental dan menara di depan gereja dengan lonceng
diatasnya.
- Pura Jagat Natha Nusa Dua yang terletak di bagian
paling kanan kompleks. Kala makara paling besar dibuat dengan sepasang
tangan berkuku panjang, yang tidak lazim dijumpai pada candi-candi Jawa.
Walaupu warga Bali
mayoritas memeluk Agama Hindu, kerukunan dan toleransi Umat Beragama patut
menjadi Teladan. Mendengar cerita banyak orang di sekitar, perayaan ataupun
upacara keagamaan seringkali di selingi Suara Adzan atau Shalat Jum'at yang
tetap diadakan.
Suatu ketika Hari Raya
Nyepi jatuh bertepatan dengan Hari Jum'at. Hari Raya Nyepi sangat sakral bagi
umat Hindu di Bali. Warga di seluruh pulau Bali tidak boleh bepergian keluar
rumah. Pada malam hari warga tidak boleh menyalakan api atau lampu penerangan
dan tidak boleh membuat keributan. Siapa yang melanggar akan ditahan oleh
Pecalang (penjaga keamanan Desa Adat). Namun hal yang sangat menarik adalah
ternyata pada Jumat itu secara khusus umat Muslimin di Nusa Dua dipersilakan
beribadah Jumat di Masjid Ibnu Batutah Puja Mandala.
Hal lainnya yaitu saat
menyambut Paskah misalnya, petugas keamanan desa adat atau pecalang dan
pengurus masjid membantu mengamankan rangkaian Perayaan Paskah di Gereja Paroki
Maria Bunda Segala Bangsa. Selain itu untuk membantu mengamankan dan mengurangi
kemacetan, empat pecalang dari Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan,
Kabupaten Badung dan pengurus Masjid akan bertugas menjaga keamanan secara
bergiliran.
Di sekitar komplek
banyak terdapat ruko, toko, dan warung-warung. Beberapa adalah orang muslim
yang mendirikan toko pakaian adat dan baju muslim. Begitupun dengan masyarakat
yang beragama lain mereka saling hidup rukun dan harmonis. Tujuan dari
pendirian tempat ibadah ini merupakan percontohan miniatur kerukunan hidup
bersama, dan apabila masyarakat sekitar ditanya apakah pernah ada perselisihan
karena perbedaan agama, mereka hanya menjawab, “Tidak, justru kami berusaha
untuk saling membantu dan saling menghormati satu sama lain.”
Dengan keunikannya ini
Puja Mandala menjadi kawasan yang dianggap menggambarkan Kerukunan dan
Toleransi antar Umat Beragama di Indonesia Khususnya di Bali dan menjadi tempat
wisata yang sangat diminati oleh wisatawan, baik Wisatawan Domestik maupun
Wisatawan Mancanegara.
Refrensi : - Tour Guide Widya Wisata “Amazing Bali”
2016, Bus 5 (Bli Putu)
- Ta’mir Masjid Agung Ibnu Batutah






0 comments:
Post a Comment